Pernahkah terpikirkan oleh Anda, mengapa para pengendara/ pengemudi kendaraan bermotor berhenti di depan lampu lalu lintas yang menyala merah di persimpangan jalan? Mengapa mereka patuh ‘diperintah’ oleh sebuah lampu lalu lintas? (kecuali yang memang bandel atau ada polisi lalu lintas di situ). Lalu serentak mereka kembali menjalankan kendaraannya ketika lampu menyala hijau. Atau Anda para perempuan tak perlu jatuh malu hanya karena salah masuk ke toilet laki-laki di tempat umum?


       Itulah salah satu bentuk dari komunikasi visual. Kita dapat melihat – walau kadang kita tidak sadari – betapa luar biasa efek komunikasi visual itu. Polisi lalu lintas berkomunikasi dengan para pengguna lalu lintas dengan mempergunakan lampu pengatur lalu lintas. Pengelola gedung mempersilakan kita masuk ke toilet yang benar sesuai jenis kelamin kita.
Penglihatan merupakan indera yang memberi informasi yang cepat dan lengkap, diperkirakan bahwa 70% hingga 80% dari pengetahuan manusia diperoleh melalui indera mata. Selain memanfaatkan mata sebagai sarana utama untuk memahami dunia, manusia menterjemahkan informasi yang diterima indera lain ke dalam kesan penglihatan. Dengan demikian dalam berbagai hal indera penglihatan berfungsi juga sebagai terjemahan indera yang lain.

Perihal Komunikasi
Komunikasi dari bahasa Latin communicatio/communis yang berarti sama dalam hal makna mengenai satu hal. Komunikasi mengacu pada tindakan, oleh satu orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan, yang dapat terdistorsi oleh gangguan (noise), yang terjadi dalam konteks tertentu dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik. Komunikasi selalu mempunyai efek atau dampak atas satu atau lebih orang yang terlibat dalam tindak komunikasi. Manusia melakukan komunikasi dengan berbagai macam tujuan. Berbeda tujuan berbeda pula cara mengungkapkannya.
Cara berkomunikasi dapat menentukan pesan tersampaikan dengan baik atau tidak. Oleh sebab itu perlu diketahui beberapa bentuk komunikasi, yaitu:
a. Komunikasi verbal dan non-verbal.
Komunikasi verbal atau lisan (pendengaran, pengucapan atau bunyi-bunyian) menggunakan telinga sebagai sensasi dengar. Ada dua macam komunikasi verbal yaitu bahasa lisan dan auditory voice (musik, siulan, lonceng, kenthongan dan sebagainya)
Komunikasi non-verbal, yaitu yang berupa tulisan, seperti: surat, majalah, koran dan sebagainya.
b. Komunikasi tactual
Yaitu jenis komunikasi yang mempergunakan kulit sebagai sensasi rabaan. Misalnya: huruf Braille untuk tuna netra, contoh kertas, kain, keramik dan lain-lain.
c. Komunikasi olfactoral/gustatory
Menggunakan hidung sebagai sensasi penciuman.
Misalnya: contoh parfum.
d. Komunikasi pengecap
Menggunakan sensasi lidah sebagai sensasi rasa. Misalnya: contoh masakan
e. Komunikasi tubuh
Kinetika atau studi tentang gerakan tubuh dalam komunikasi non-verbal yang merujuk pada sikap tubuh dan gerakan tubuh lain (misalnya untuk tuna rungu), body language, seni peran, pantomime, tarian dan sebagainya.
f. Komunikasi teknologi
Terdiri dari bahasa pemrograman seperti HTML, Java Script atau melalui telepon, facsimile, televisi dan lain-lain.
g. Komunikasi visual
Menggunakan mata sebagai sensasi penglihatan.
Komunikasi visual termasuk salah satu bentuk penyampaian pesan yang memanfaatkan unsur-unsur rupa (contoh: bentuk, warna, komposisi, lambang dan lain sebagainya). Bahkan bentuk komunikasi ini telah dikenal jauh sebelum manusia mengenal aksara, seperti Hieroglyph di Mesir, keping tanah liat dari Sumeria, lukisan di dinding gua Altamira, Spanyol dan gua Leang-Leang Sulawesi.

Satu bahasa visual yang mewakili banyak bahasa

Meskipun manusia telah mempergunakan komunikasi tulisan dan verbal dalam kehidupan sehari-hari, namun komunikasi visual tetap memegang peranan penting dalam proses dan upaya penyampaian pesan. Dalam beberapa kasus, komunikasi visual lebih efektif dibandingkan jenis komunikasi yang lain. Pada keadaan perbedaan bahasa, keterbatasan literatur, ketiadaan teknologi komunikasi, hambatan cuaca, jarak ataupun situasi, maka komunikasi visual dapat dipergunakan di sini. Komunikasi visual bersifat universal, meskipun begitu tetap memerlukan konvensi/persetujuan untuk dapat sama-sama dipahami dan juga lingkup referensi yang sama.

Gerakan tangan untuk memandu pesawat terbang di landasan

Rambu lalu-lintas berlaku universal di seluruh dunia, petunjuk piktorial di bandara misalnya, mampu mengatasi masalah kendala perbedaan bahasa. Gerakan-gerakan tubuh menghasilkan pesan visual, kedipan lampu kode Morse dari kapal perang mampu mengatasi kendala jarak, asap merah atau peluru suar dari korban kecelakaan laut dapat mengatasi masalah penyampaian pesan dalam kendala cuaca dan geografis. Dalam situasi tidak boleh bicara maka dipakailah kode tangan dalam sepasukan tentara. Orang Indian Amerika memakai komunikasi visual berupa kepulan asap ketika belum ada teknologi canggih untuk berkomunikasi. Dalam kehidupan sehari-hari sekarangpun kita juga banyak memanfaatkan komunikasi visual, baik sebagai penyampai pesan pokok maupun sekedar alat bantu, seperti pada interface komputer, televisi, majalah, iklan hingga LCD/OHP di ruang kuliah/seminar.

Bahasa visual untuk mengatasi kendala bahasa verbal

Referensi:
Henry Dreyfuss, Symbol Sourcebook, McGraw-Hill Company, New York, 1972