Dalam komunikasi visual, pemakaian tanda-tanda mempunyai peran yang cukup besar. Demikian pula kemampuan untuk menyusun dan membaca tanda dapat menjadi faktor keberhasilan sebuah penyampaian pesan secara visual. Berdasarkan sifatnya komunikasi visual seringkali menimbulkan interpretasi yang berlainan antar individu penerimanya. Maka dalam melakukan komunikasi visual diperlukan referensi yang sama dan sebuah konvensi. Komunikasi visual dibangun dengan dan di atas tanda-tanda.

 Tanda

Dalam memahami tanda diperlukan ilmu tanda atau semiotika. Kata semiotika berasal dari bahasa Yunani semeion, yang berarti tanda. Tanda sendiri adalah ‘sesuatu yang mewakili sesuatu’ (signs are things which stand for other things). Namun dalam pembahasan ini tidak membicarakan mengenai semiotika sebagai ilmu tanda secara luas. Pembahasan kita adalah mengenai bagaimana membaca tanda yang muncul dalam tampilan komunikasi visual. Karena membaca tanda bersifat penafsiran, maka keluasan wawasan serta referensi sangat diperlukan di sini.

Dalam membaca tanda dikenal adanya signifier (penanda) dan signified (petanda), atau apa menjadi tanda dari apa atau apa ditandai dengan apa. Sebagai misal adalah ketika kita melihat asap hitam membubung tinggi di kejauhan (signifier/penanda) maka kita berkesimpulan bahwa itu menjadi tanda (sign) dari (1) ada kebakaran atau (2) asap dari cerobong pabrik yang sedang beroperasi (signified/petanda).

SIGN/TANDA

Signifier/Penanda

Signified/Petanda

 

Kita tidak dapat memisahkan penanda dan petanda dengan tanda itu sendiri, karena penanda dan petanda membentuk tanda. Jika kita umpamakan adalah seperti sehelai kertas, pada satu sisi adalah penanda sedangkan pada sisi lain adalah petanda dan kertas adalah tanda itu sendiri. Dengan cara seperti itulah sebuah tanda bekerja, dengan melihat sebuah tanda maka kita membuat makna atas tanda itu. Ada sebuah titik yang penting dalam hubungan antara penanda dan petanda yaitu arbitrary (kerancuan). Namun hal ini menurut Saussure adalah bahwa semua itu tergantung dari signifier tersebut.

 

Tanda, Simbol dan Sinyal

Di atas telah disebutkan bahwa tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu. Namun pada perkembangannya ditemukan pula bahwa tanda juga bisa menipu. Berikut adalah dua hal yang berhubungan dengan sign (tanda) yaitu: symbol (simbol) dan signal (sinyal/tanda-tanda). Sebuah simbol, menurut perspektif Saussure, adalah sebuah tanda yang hubungan antara penanda dan petanda hanya seperempat rancu. Simbol sendiri adalah ‘tanda yang mewakili tanda’. Menurut Saussure: salah satu sifat dari simbol adalah tidak sepenuhnya rancu/membingungkan, namun ada hubungan asli yang tidak bisa serta merta tergantikan antara penanda dan petanda itu sendiri. Sebagai contoh simbol dari keadilan adalah sebuah neraca, yang mana tidak bisa seenaknya diganti dengan roda kereta misalnya. Simbol keadilan yang berupa neraca menjadi simbol keadilan yang terkuat secara universal. Terdapat sebuah hubungan yang logis antara sebuah neraca dan konsep keadilan. Namun kita tetap harus mempelajari apa hubungan antara neraca dan keadilan. Meskipun begitu ketika kita melihat sebuah neraca kita tidak serta merta berpikir mengenai dan menghubungkannya dengan keadilan. Dalam hal ini masalah konteks menjadi sungguh penting. Simbol adalah sesuatu tanda yang penuh arti secara mendalam, sehingga dalam memahami sebuah simbol seringkali tergantung dari apa latar belakang yang mereka bawa dari kebudayaan mereka kepada kebudayaan kita dan sebaliknya. Jadi dalam hal ini masalah referensi atau latar belakang pengalaman juga penting dalam memahami sebuah simbol.

Sebuah sinyal adalah sebuah tanda yang secara umum dipakai untuk mendapatkan respon dari penerimanya. Misalnya kibaran bendera checkers untuk memulai sebuah lomba balap mobil atau lampu lalu-lintas yang berwarna merah yang ‘memerintahkan’ para pengendara untuk menghentikan kendaraannya. Jadi tanda bisa berupa sebuah simbol atau sebuah sinyal.

Membaca Tanda Visual

Dalam membaca tanda-tanda visual, sekali lagi, diperlukan keluasan wawasan, kedalaman referensi dan memahami konvensi yang berlaku. Namun begitu tidak semua tanda dapat terbaca dengan baik dan jelas. Hal ini dapat terjadi karena:

       Ada tanda yang sengaja disembunyikan atau tidak sengaja tersembunyi

       Ada tanda yang sengaja dipalsukan

       Perbedaan referensi, latar belakang budaya dan pengetahuan

Tanda yang sengaja disembunyikan terjadi apabila seseorang dengan sengaja tidak menampilkan tanda yang semestinya melekat pada dirinya, misal seorang yang sangat kaya namun dalam kesehariannya ia selalu sengaja tampil sederhana. Ia tidak pernah memakai atribut sebagai penanda bahwa ia adalah orang yang sangat kaya. Sedangkan apabila seseorang yang sangat kaya dengan atribut yang sesuai dengan kekayaannya namun orang tetap menilai bahwa ia adalah bukan orang kaya atau setidaknya penampilannya tidak pantas seperti orang kaya maka seperti itulah tanda yang tidak sengaja tersembunyi.

Sedangkan tanda yang dipalsukan adalah terjadi apabila seseorang dengan sengaja mengatur tanda yang melekat pada dirinya dengan tujuan ingin menciptakan image atau impresi tertentu sesuai keinginannya. Sebagai misal seorang pengusaha yang lebih suka membeli sebuah mobil mewah daripada sebuah rumah sebagai suatu urutan kebutuhan. Karena dia mempunyai asumsi bahwa dengan mobil mewah maka akan memperlancar usahanya karena bonafiditas dirinya terangkat. Sedangkan rumah cukup dia sewa dengan asumsi rekan usahanya tidak akan pernah menanyakan apakah rumahnya hanya menyewa ataukah milik pribadi. Selain itu dia juga menyusun tanda-tanda lain berupa atribut-atribut seperti jam tangan bermerk, handphone hi-tech, pakaian, keanggotaan klub eksekutif dan lain sebagainya. Adapun dengan tanda-tanda yang disusun akan menunjang tujuannya.

 

Sebagai contoh, berikut disajikan petanda dan identitas gaya hidup yang dipakai oleh pria untuk menciptakan impresi, citra dan identitas, seperti model rambut, pakaian, perlengkapan, sepatu, kacamata dan dasi dengan referensi budaya dan lingkungan Barat

Obyek

Penanda

Petanda

Model Rambut

Rambut panjang/gondrong

Urakan (apalagi kotor)

Rambut pendek

Pengusaha mapan

Rambut sangat pendek

Homoseks atau militer (atau dua-duanya)

Crew cut

Tentara

Kulit

Kecoklatan/terbakar matahari

Senang olah raga, suka jalan-jalan

Pucat

Kaum intelek, kurang sehat

Celana

Levi’s/jeans belel

Casual, kaum pekerja

Jeans rapi

Berkelas, kaya

Jas lengkap

Eksekutif, pengusaha

Tas

Koper

Kuno

Attache case

Tipe pengusaha biasa

Tas tangan

Bergaya a la Eropa, gaya Itali gadungan

Tas ransel

Penggemar olah raga luar ruang

Tas belanja

Kaum petani

Alas kaki

Sandal

Seniman

Sepatu bot

Kaum pekerja

Sepatu pendaki gunung

Pecinta alam, pendaki gunung

Kacamata

Kacamata pilot

Kelas menengah mapan

Bergagang kecil

Antik, aneh

Kacamata hitam

Tipe preman, paranoid

Dasi

Dasi lebar

Pintar

Dasi kecil

Kuno

 

Contoh di atas adalah bersifat relatif, pun juga belum tentu akan berlaku sebagai referensi di negara kita. Referensi tidak hanya merujuk pada kultur saja, namun juga akan berbeda menurut usia, strata sosial, kultur geografis, peristiwa aktual atau populer, kelompok sosial, tingkat pendidikan, pengetahuan kognitif dan sebagainya.

 

Tanda visual dapat kita pergunakan pada bidang-bidang seperti:

Bidang

Penanda

Petanda

Kesehatan

Gejala

Penyakit

fMiliter

Tanda pangkat

Tingkatan pangkat

Teater

Ekspresi wajah

Pernyataan emosi

Desain

Bentuk

Filosofi/konsep

Penyelidikan kejahatan

Petunjuk

Aksi kejahatan

Antropologi

Artefak

Periode budaya

Kisah roman

Berlian

Cinta abadi

Sosial

Rolls Royce

Status sosial

 

Sumber:

Arthur Asa Berger, Signs in Contemprary Culture, Longman, New York, 1984


Baca juga artikel mengenai Sherlock Holmes: Sang Ahli Semiotika/Semiologis

Arthur Asa Berger, Signs in Contemporary Culture, Longman, New York, 1984, hal. 76