Gaya hidup = bagaimana seseorang menghabiskan waktu dan uangnya

 

Klasifikasi gaya hidup berdasarkan:

Activities (aktivitas)

Interests (minat)

Opinions (pandangan-pandangan)

 

Bagaimana mereka menghabiskan waktunya?

Apa minat mereka? Apa yang mereka anggap penting di sekitarnya?

Apa pandangan mereka terhadap diri sendiri maupun orang lain?

Apa karakter-karakter dasar mereka (life cycle, penghasilan, pendidikan, tempat tinggal)?

Tiga kelompok besar segmen psikografi:

1. Pleasure – Achievement factor

Kualitas kerja keras seseorang.

2. Follower – Commander factor

Peranan seseorang dalam kelompoknya.

3. Low Profile – High Profile factor

Tingkat keinginan seseorang untuk mencari perhatian.

Segmen perilaku gaya hidup masyarakat perkotaan Indonesia:

The Affluent (15%): pekerja keras, percaya diri, inovatif, proaktif dan berani ambil resiko. Senang mencari perhatian dan menyukai kehidupan dinamis. Terbuka pada hal-hal baru, memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain.

The Achievers (14%): kemampuan memimpin, kurang suka mencari perhatian. Mengkonsumsi barang-barang fungsional. Keputusan rasional, tidak mudah menerima gagasan baru.

The Anxious (6%): sikap sebagai follower, ambisius. Rasa percaya diri kuat, kurang memiliki keberanian. Mudah dipengaruhi.

The Loners (10%): senang menyendiri, kurang berani tampil, individualistik.

e. The Socialite (11%): senang bergaul, bersosialisasi dengan orang lain, pengambil resiko yang berani namun kurang rasional. Senang ingin menguasai orang lain, senang menonjolkan diri. Reaktif terhadap perubahan-perubahan dan bersifat impulsif.

f. The Pusher (6%): tidak ingin diperhatikan namun ingin mendominasi tapi tanpa arah jelas. Tidak memiliki tujuan jelas namun suka mengontrol orang lain. Tidak mudah menerima hal-hal baru.

g. The Attention Seeker (17%): ingin menarik perhatian, senang membeli barang baru untuk menarik perhatian orang lain, impulsif dan tidak rasional. Mudah dibujuk secara emosional dan cenderung followers.

h. Pleasure Seekers (20%): ingin mencapai sesuatu tujuan tanpa bekerja terlalu keras. Individualis, kurang senang sosialisasi, tapi suka mengikuti tren. Tidak punya prinsip kuat meski tidak menghendaki perubahan-perubahan.

Seorang peneliti bernama Susianto pada tahun 1993 memetakan 6 segmen gaya hidup remaja di Jakarta:

Hura-hura (9%) – kelompok yang menyukai kegiatan hura-hura. Tidak terlalu serius terlibat dalam sesuatu hal. Sebagian besar adalah pria yang senang ‘keramaian kota’.

Hedonis (2%) – kelompok yang mengarahkan aktivitasnya untuk mencari kenikmatan hidup semata. Menyenangi kegiatan di luar rumah dan membeli barang-barang mahal untuk kesenangan.

Rumahan (23%) – adalah mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Berorientasi pada keluarga dan selektif dalam menghabiskan uang sakunya.

Sportif (21%) – adalah mereka yang menyukai olah raga dan prestasi di bidang olah raga. Bukan tipe pesolek dan terbuka pada situasi.

Kebanyakan (30%) – tipe umum yang paling banyak ditemui, berhati-hati dalam bertindak, konformis, kurang berani menjadi inisiator.

Orang untuk orang lain (15%) – kelompok yang peka terhadap kebutuhan orang lain, dapat diandalkan, bersikap sosial, produktif, mengutamakan kebersamaan dalam keluarga.

Riset Global Scan oleh Biro Riset Backer Spielvogel & Bates Worldwide (BSB) pada tahun 1985. Memetakan perilaku konsumen di 18 negara (Australia, Belgia, Kanada, Denmark, Finlandia, Perancis, Jerman, Belanda, Hongkong, Italia, Jepang, Meksiko, Norwegia, Spanyol, Swedia, Inggris, Amerika Serikat dan Venezuela).

Strivers (Pekerja Keras) (26%) – muda usia, sibuk, hidup di bawah tekanan waktu, pekerja keras, materialistis, mencari kesenangan hidup, menginginkan imbalan instan.

Achievers (Pemburu Sukses) (22%) – usia lebih tua dibanding strivers, hidup sejahtera, agak sombong dan ‘tinggi’ perilakunya, sadar kelas dan kualitas, trendsetter.

Pressured (Orang-orang yang tertekan) (13%) – penghasilan tetap, beban keluarga yang besar, tidak memiliki kesempatan menikmati hidup.

Adapters (Pencocok) (18%) – mereka yang selalu merasa cocok dengan lingkungannya, tidak mudah mengeluh, selalu menyesuaikan dengan perubahan, bersikap terbuka, tidak mudah terkejut.

Traditionals (16%) – mempertahankan nilai-nilai lama di daerahnya masing-masing, enggan pada hal-hal baru, enggan berubah, menyukai produk yang sudah dikenal, konservatif, terikat pada masa lalu.