Perihal Komunikasi

Komunikasi adalah sebuah proses penyampaian pernyataan antar manusia. Sedangkan yang dinyatakan adalah pikiran ataupun perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyampainya. Dalam istilah komunikasi, pernyataan tersebut dinamakan: pesan. Pihak yang menyampaikan pesan disebut penyampai pesan (komunikator) dan pihak yang menerima pesan disebut penerima pesan (komunikan).

Pesan tersebut disampaikan melalui media dan dengan maksud tertentu. Sedangkan yang disebut sebagai media di sini adalah segala perantara penyampaian pesan tersebut. Karena bagaimanapun juga sebuah pesan tak akan tersampaikan jika tidak ada perantaranya yang mengantarkan dari penyampai pesan kepada penerima pesan. Lantas dengan maksud tertentu, artinya bahwa seseorang menyampaikan sesuatu pesan kepada orang lain, tidak mungkin jika tiada maksud. Pasti ada maksud tertentu dan bisa apapun.

Jika ditegaskan sekali lagi maka komunikasi berarti proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui suatu media dengan maksud tertentu.

Jika ditelaah sekali lagi maka pesan komunikasi terdiri dari dua aspek: (1) isi pesan (content of the message) (2) lambang (simbol). Sehingga isi pesan itu adalah pikiran atau perasaan, dan lambang adalah bahasa.[1]

Komunikasi Visual sebagai Pesan Nonverbal

         Komunikasi nonverbal secara umum dipahami sebagai proses komunikasi dengan cara mengirim dan menerima pesan di luar kata-kata dan tulisan (yang disebut pesan verbal). Beberapa pesan dapat disampaikan melalui gesture (gerak tubuh), bahasa tubuh atau postur, ekspresi wajah dan kontak mata. Obyek atau benda-benda juga bisa dipakai sebagai sarana komunikasi nonverbal seperti pakaian, gaya rambut dan hingga arsitektur, simbol dan infografis.

Pidato atau pembicaraanpun juga mengandung unsur komunikasi nonverbal yang dikenal sebagai paralinguistik, termasuk kualitas suara, emosi dan gaya bicara seperti halnya pada ciri-ciri prosody yaitu: ritme, intonasi dan tekanan. Teks tertulispun juga memiliki elemen nonverbal seperti tipografi, gaya tulisan tangan, jarak antar kata atau pemakaian emoticon.

Namun, beberapa studi mengenai komunikasi nonverbal difokuskan pada interaksi langsung (face to face) di mana bisa diklasifikasikan menjadi tiga bagian: keadaan lingkungan di mana komunikasi dijalankan, karakter fisik dari penyampai pesan dan perilaku penyampai pesan selama berinteraksi.

Ada beberapa pembagian pesan nonverbal, meski belum ada kesepakatan di antara para ahli komunikasi. Salah satunya adalah menurut Leathers[2] yang membaginya ke dalam tiga kelompok besar: nonverbal visual (kinetic, proxemic dan artifactual), nonverbal auditif (paralinguistic dan auditory), nonverbal nonvisual nonauditif (tactile/tactual, olfactory).

 gestural

Pesan fasial, gestural dan postural yang muncul dalam bahasa tubuh.

         Pesan kinetic adalah pesan yang menggunakan gerakan tubuh yang terdiri dari: pesan facial, pesan gestural dan pesan postural. Pesan fasial menggunakan ekspresi wajah untuk menyampaikan pesan tertentu baik sengaja maupun tidak. Sedangkan pesan gestural adalah mempergunakan gerakan badan atau anggota badan untuk menyampaikan berbagai pesan. Sementara pesan postural adalah pesan yang berkenaan dengan sikap keseluruhan badan (dalam keadaan berdiri, duduk, tidur dan lainnya).

Pesan proxemic adalah pesan yang disampaikan melalui jarak dan ruang atau penggunaan ruang personal dan sosial. Semakin dekat jarak antar dua pelaku komunikasi maka bisa diterima sebagai ungkapan kedekatan personal.

 proxemic

Jarak dan ruang antar pribadi menunjukkan pesan tertentu.

         Pesan artifactual diwujudkan melalui benda-benda karya manusia seperti: pakaian, asesoris, rambu, tipografi, gambar dan lain sebagainya.

   rambu

Benda-benda buatan manusia sebagi pesan artifactual.

         Pesan paralinguistic adalah pesan yang berhubungan dengan cara mengucapkan (intonasi) pesan verbal. Ketika sebuah pesan yang sama namun diucapkan dengan intonasi yang berbeda maka bisa berbeda pula maknanya.

Sedangkan pesan yang auditory adalah pesan yang memakai bunyi yang timbul dari benda-benda yang ada. Misalnya: pedagang bakso menjajakan dagangannya dengan suara mangkuk bakso yang dipukul.

Pesan tactile adalah pesan yang disampaikan melalui perabaan. Sedangkan pesan olfactory adalah pesan yang disampaikan melalui bau-bauan.

Komunikasi visual termasuk salah satu bentuk penyampaian pesan nonverbal artifactual yang memanfaatkan unsur-unsur rupa (contoh: bentuk, warna, komposisi, lambang dan lain sebagainya). Bahkan bentuk komunikasi ini telah dikenal jauh sebelum manusia mengenal aksara, seperti Hieroglyph di Mesir, keping tanah liat dari Sumeria, lukisan di dinding gua Altamira Spanyol dan gua Leang-Leang Sulawesi.

 Moscow to New York

Bahasa visual untuk mengatasi kendala bahasa verbal

Antara Komunikasi Verbal dan Komunikasi Visual

Bahasa mempermudah kemampuan belajar dan mengingat, memecahkan persoalan dan menarik kesimpulan. Bahasa memungkinkan kita menyandi peristiwa yang ada dalam bentuk kata-kata. Melalui bahasa, manusia mengkomunikasikan pemikirannya kepada orang lain dan menerima satu sama lain food for thought.

Meski demikian ada keterbatasan dalam bahasa: (1) terbatasnya jumlah kata untuk mewakili sebuah obyek, (2) kata-kata memiliki sifat ambigu dan kontekstual, (3) kata-kata mengandung resiko bias budaya.

Sementara ada beberapa fungsi dari komunikasi visual: (1) visual dapat berfungsi menterjemahkan hal-hal yang tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata, teks, naskah dan bisa juga sebagai pendukung teks, (2) visual sebagai representasi, (3) visual menggambarkan kenyataan yang sebenarnya (realitas), (4) visual dapat menggambarkan kesan tertentu dan menimbulkan citra tertentu, (5) visual sebagai daya tarik, (6) visual sebagai pemberi instruksional, (7) visual sebagai daya tarik tertentu.

Komunikasi Visual

Penglihatan merupakan indera yang memberi informasi yang cepat dan lengkap, diperkirakan bahwa 70% hingga 80% dari pengetahuan manusia diperoleh melalui indera mata[3]. Selain memanfaatkan mata sebagai sarana utama untuk memahami dunia, manusia menterjemahkan informasi yang diterima indera lain ke dalam kesan penglihatan. Dengan demikian dalam berbagai hal indera penglihatan berfungsi juga sebagai terjemahan indera yang lain.

Komunikasi visual adalah penyampaian pesan melalui bahasa rupa.

Dapat kita saksikan bahwa saat ini pemakaian visual untuk berkomunikasi semakin berkembang dan semakin baik. Kita hidup dalam media-media visual yang sangat cepat. Mulai dari yang dua dimensi statis hingga tiga dimensi dinamis. Visual-visual itu mengisi halaman surat kabar, majalah, buku, pakaian, billboard, layar komputer, layar handphone, televisi dan lain sebagainya. Salah satunya yang bisa menjadi penanda adalah: emoticon[4]. Para pemakai aplikasi mobile seperti Line, KakaoTalk, WhatsApp pasti sudah sangat akrab dengan bahasa visual seperti sticker dan emoticon yang lebih bisa mengekspresikan pesan. Hal ini terjadi semakin cepat pada satu dasawarsa terakhir. Tiada terasa kita telah berubah. Sesuatu yang belum pernah tejadi pada sejarah komunikasi massa sebelumnya. Kita telah menjadi sebuah komunitas yang dihubungkan secara visual.

    Stiker KakaoTalk Stiker Line

Sticker dari aplikasi Line dan KakaoTalk.

         Pernahkah terpikirkan oleh Anda, mengapa para pengendara/ pengemudi kendaraan bermotor berhenti di depan lampu lalu lintas yang menyala merah di persimpangan jalan? Mengapa mereka patuh ‘diperintah’ oleh sebuah lampu lalu lintas? (kecuali yang memang bandel atau ada polisi lalu lintas di situ). Lalu serentak mereka kembali menjalankan kendaraannya ketika lampu menyala hijau. Atau Anda para perempuan tak perlu jatuh malu hanya karena salah masuk ke toilet laki-laki di tempat umum?

 toilet.sign

Simbol untuk membedakan toilet pria dan wanita.

         Itulah salah satu bentuk dari komunikasi visual. Kita dapat melihat – walau kadang kita tidak sadari – betapa luar biasa efek komunikasi visual itu. Polisi lalu lintas berkomunikasi dengan para pengguna lalu lintas dengan mempergunakan lampu pengatur lalu lintas. Pengelola gedung mempersilakan kita masuk ke toilet yang benar sesuai jenis kelamin kita.

Meskipun manusia telah mempergunakan komunikasi tulisan dan verbal dalam kehidupan sehari-hari, namun komunikasi visual tetap memegang peranan penting dalam proses dan upaya penyampaian pesan. Komunikasi visual sebagai bentuk pesan verbal memiliki beberapa fungsi: (1) mengulang kembali pesan yang telah disampaikan secara verbal (repetisi), (2) menggantikan lambang-lambang verbal (substitusi), (3) menolak pesan verbal atau memberi arti lain dari pesan verbal (kontradiksi), (4) melengkapi pesan verbal (komplemen), (5) menegaskan pesan verbal (aksentuasi).

Dalam beberapa kasus, komunikasi visual lebih efektif dibandingkan jenis komunikasi yang lain. Pada keadaan perbedaan bahasa, keterbatasan literatur, ketiadaan teknologi komunikasi, hambatan cuaca, jarak ataupun situasi, maka komunikasi visual dapat dipergunakan di sini. Komunikasi visual bersifat universal, meskipun begitu tetap memerlukan konvensi/persetujuan untuk dapat sama-sama dipahami dan juga lingkup referensi yang sama.

Gerakan tangan untuk memandu pesawat terbang di landasan (marshaller).

Rambu lalu-lintas berlaku universal di seluruh dunia, petunjuk piktorial di bandara misalnya, mampu mengatasi masalah kendala perbedaan bahasa. Gerakan-gerakan tubuh menghasilkan pesan visual, kedipan lampu kode Morse dari kapal perang mampu mengatasi kendala jarak, asap merah atau peluru suar dari korban kecelakaan laut dapat mengatasi masalah penyampaian pesan dalam kendala cuaca dan geografis. Dalam situasi tidak boleh bicara maka dipakailah kode tangan dalam sepasukan tentara. Orang Indian Amerika memakai komunikasi visual berupa kepulan asap ketika belum ada teknologi canggih untuk berkomunikasi. Dalam kehidupan sehari-hari sekarangpun kita juga banyak memanfaatkan komunikasi visual, baik sebagai penyampai pesan pokok maupun sebagai alat bantu, seperti pada interface komputer, televisi, majalah, iklan hingga proyektor LCD di ruang kuliah/seminar.

gambar-poison1 

Satu bahasa visual yang mewakili banyak bahasa.

 

Ragam Komunikasi Visual

Referensi:

–        Henry Dreyfuss, Symbol Sourcebook, McGraw-Hill Company, New York, 1972

–        Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001

–        Tim Penulis PS DKV ISI Yogyakarta, Irama Visual – Dari Toekang Reklame sampai Komunikator Visual, Jalasutra, Yogyakarta, 2009

–       Yongky Safanayong, Desain Komunikasi Visual Terpadu, Arte Intermedia, Jakarta, 2006


[1] Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000, hal. 28.

[2] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001, hal. 289

[3] Paul Laseau, Graphic Thinking for Architects & Designers, 1980.

[4] Emoticon = emotion + icon. Tercatat sebagai orang pertama yang menggunakan emoticon adalah Scott Fahlman, seorang ahli komputer dari Universitas Carnegie Mellon, Amerika Serikat. Dia mengirim e-mail ke universitasnya yang berisi usulannya mengenai simbol untuk membedakan mana pesan yang serius dan mana pesan yang tidak serius/bercanda. Simbol itu adalah:   :-)   (tidak serius) dan   😦   (serius).